Jurnal Riset Daerah https://ojs.bantulkab.go.id/index.php/jrd Jurnal Riset Daerah Kabupaten Bantul Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Bantul id-ID Jurnal Riset Daerah 1412-8519 Efektifitas Spiritual Emotional Freedom Techniques (SEFT) terhadap Penurunan Tekanan Darah Pasien Hipertensi https://ojs.bantulkab.go.id/index.php/jrd/article/view/152 <p>Hipertensi merupakan masalah kesehatan global yang serius dengan prevalensi tinggi serta kontribusi besar terhadap morbiditas dan mortalitas. Stres emosional, ketegangan psikologis, dan ketidakseimbangan sistem saraf otonom diketahui dapat memperburuk kondisi hipertensi. Namun, terapi non-farmakologis yang mudah diakses dan berfokus pada aspek psikologis serta spiritual, seperti Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT), masih belum dimanfaatkan secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas terapi SEFT dalam menurunkan tekanan darah pada orang dewasa yang mengalami hipertensi. Desain penelitian yang digunakan adalah quasi-eksperimental dengan pendekatan satu kelompok pre-test dan post-test. Sebanyak 45 responden mengikuti intervensi SEFT selama 2 minggu. Pengukuran tekanan darah dilakukan sebelum dan sesudah terapi. Data dianalisis menggunakan uji <em>paired t-test</em> untuk mengetahui perbedaan signifikan antara nilai pre-test dan post-test. Sebagian besar responden berusia 56–70 tahun (71%), berjenis kelamin perempuan (76%), dan memiliki riwayat keluarga hipertensi (80%). Sebelum intervensi, mayoritas responden berada pada kategori hipertensi berat (56%), yang kemudian menurun menjadi hipertensi sedang (58%) setelah terapi. Ditemukan penurunan tekanan darah yang signifikan, dengan rata-rata penurunan sebesar 23,47 mmHg dan nilai <em>p</em> 0,000. Temuan ini menunjukkan bahwa SEFT efektif menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik melalui mekanisme relaksasi mendalam, pengurangan stres, serta stabilisasi sistem saraf otonom. SEFT merupakan terapi komplementer yang efektif untuk menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi. Intervensi ini sederhana, aman, dan mudah dipraktikkan, sehingga dapat menjadi terapi tambahan yang bermanfaat dalam membantu mengontrol tekanan darah serta meningkatkan kualitas hidup pasien.</p> Supatmi Dian Novita Kumalasari Siti Hanifatun Fajria Agustiningsih Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Riset Daerah 2026-01-21 2026-01-21 25 4 10.64730/jrdbantul.v25i4.152 Gambaran Faktor Resiko Penyakit Tidak Menular (PTM) Pada Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bantul https://ojs.bantulkab.go.id/index.php/jrd/article/view/153 <p>Penyakit tidak menular (PTM) di kalangan remaja telah menjadi perhatian besar dalam kesehatan publik global, terutama karena peningkatan prevalensi dan dampaknya terhadap kualitas hidup. Remaja saat ini dihadapkan pada sejumlah faktor risiko yang berkontribusi pada berkembangnya PTM, seperti gaya hidup tidak sehat dan pola perilaku berisiko yang dimulai sejak dini. Faktor-faktor tersebut antara lain penggunaan tembakau, diet yang buruk, kurangnya aktivitas fisik, dan konsumsi alkohol. Tujuan dari penelitian ini adalah dapat diketahui faktor resiko PTM sejak dini pada mahasiswa STIKES Bantul. Penelitian ini merupakan penelitian Deskriptif Observasional dengan menggunakan&nbsp; desain penelitian Cross sectional. Analisis data secara univariat dengan menampilkan distribusi dan frekuensi dari masing-masing variabel. Berdasarkan hasil penelitian usia responden paling banyak adalah 19 tahun (29,5%) sedangkan jenis kelamin paling banyak adalah perempuan 53 orang (86,9%). mayoritas responden memiliki IMT normal yaitu sebanyak 75,4% sedangkan untuk tekanan darah mayoritas mahasiswa memiliki tekanan darah normal sebanyak 98,4%. Mayoritas responden melakukan akitivitas fisik sedang sebanyak 57,4%. Tingkat stress sebagian besar responden Normal sebanyak 52,5% dan 91,8% responden bukan perokok. Gambaran faktor resiko penyakit tidak menular di Stikes Bantul masih sangat rendah, namun ada sebagian kecil responden yang memiliki resiko mengalami penyakit tidak menular yang dikarenakan IMT <em>overweight</em> dan obesitas, aktivitas fisik yang masih rendah serta tingkat stres sedang.</p> Dian Novita Kumalasari Erma Pranawati Supatmi Eni Purwaningsih Siti Hanifatun Fajriah Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Riset Daerah 2026-01-21 2026-01-21 25 4 10.64730/jrdbantul.v25i4.153 Model Pembelajaran dan Implementasi Posyandu Integrasi Layanan Primer (Studi Kasus) https://ojs.bantulkab.go.id/index.php/jrd/article/view/154 <p>Pelaksanaan Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) sebagai model layanan kesehatan komunitas terpadu masih menghadapi berbagai tantangan, terutama terkait keterbatasan kompetensi kader, sarana prasarana, dan sistem pelaporan yang belum optimal. Kader sebagai ujung tombak kegiatan posyandu dituntut mampu mengintegrasikan berbagai informasi kesehatan, melaksanakan edukasi, pencatatan, pelaporan, serta sistem rujukan dengan puskesmas. Evaluasi awal menunjukkan bahwa kompetensi kader Posyandu Gunung Krakatau belum sepenuhnya memenuhi standar pelaksanaan ILP sebagaimana ditetapkan dalam regulasi nasional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas penerapan tiga model pembelajaran—klasikal, kelompok kecil, dan <em>role play</em>—dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader Posyandu Gunung Krakatau sebagai persiapan implementasi Posyandu Integrasi Layanan Primer berbasis kearifan lokal. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus deskriptif dengan melibatkan 16 kader Posyandu di Dusun Soka, Seloharjo, Pundong, Bantul. Kegiatan dilaksanakan selama tiga bulan (Agustus–Oktober 2025) melalui tiga tahapan pembelajaran: (1) model klasikal untuk memperkuat konsep dasar, (2) model kelompok kecil untuk peningkatan keterampilan teknis, dan (3) model <em>role play</em> untuk penerapan pengalaman langsung. Pengumpulan data dilakukan dengan <em>pre-test</em> dan <em>post-test</em> pada setiap tahap pembelajaran untuk mengukur perubahan pengetahuan dan keterampilan kader. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan yang signifikan pada semua model pembelajaran. Pada model klasikal, kader dengan kategori pengetahuan “baik” meningkat dari 18,75% menjadi 62,5%. Pada model kelompok kecil, keterampilan “baik” meningkat dari 18,75% menjadi 68,75%. Sedangkan pada model role play dan praktik langsung ILP, pengetahuan dan keterampilan “baik” meningkat dari 31,25% menjadi 87,5%. Metode <em>role play</em> terbukti paling efektif karena memadukan teori dan praktik dalam situasi simulatif yang menyerupai kondisi lapangan. Kombinasi tiga model pembelajaran klasikal, kelompok kecil, dan <em>role play</em> terbukti efektif dalam meningkatkan kompetensi kader Posyandu menuju pelaksanaan ILP berbasis kearifan lokal. Pembelajaran berjenjang dan berbasis pengalaman menciptakan proses belajar yang interaktif dan aplikatif, memperkuat kemampuan kader dalam memberikan edukasi, pelayanan dasar, pencatatan, serta sistem rujukan masyarakat. Diperlukan dukungan berkelanjutan dari puskesmas, pemerintah desa, dan lembaga lokal untuk menyediakan pelatihan periodik, sarana-prasarana, serta sistem pelaporan digital agar keberlanjutan Posyandu ILP di tingkat komunitas dapat terjamin</p> Erma Pranawati Supatmi Eni Purwaningsih Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Riset Daerah 2026-01-21 2026-01-21 25 4 10.64730/jrdbantul.v25i4.154 PERAN KADER POSYANDU DALAM MENCEGAH STUNTING DI DUSUN SRUNGGO 2 SELOPAMIORO IMOGIRI BANTUL YOGYAKARTA https://ojs.bantulkab.go.id/index.php/jrd/article/view/155 <p>Stunting merupakan masalah gizi kronis yang masih menjadi tantangan besar bagi kesehatan anak di Indonesia, termasuk di Dusun Srunggo 2, Selopamioro, Imogiri, Bantul. Meskipun prevalensi stunting di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupaten Bantul menunjukkan tren penurunan, upaya pencegahan tetap perlu diperkuat melalui layanan kesehatan berbasis masyarakat seperti Posyandu. Kader Posyandu memegang peranan penting dalam memberikan edukasi gizi, memantau status gizi anak, serta melakukan intervensi dan pendampingan keluarga dalam mencegah stunting. Namun, efektivitas peran kader sangat dipengaruhi oleh kapasitas, pelatihan, dan dukungan masyarakat maupun pemerintah. Penelitian ini bertujuan untuk menggali peran kader Posyandu di Dusun Srunggo 2, Selopamioro, Imogiri, Bantul, Yogyakarta dalam pencegahan stunting. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan diskusi kelompok terfokus (FGD) untuk memahami secara komprehensif peran kader Posyandu dalam pencegahan stunting di Dusun Srunggo 2. Analisis tematik dilakukan untuk mengidentifikasi pola, pengalaman, serta tantangan kader di lapangan. Triangulasi sumber dan teknik member checking digunakan untuk menjaga keabsahan data. Hasil penelitian menunjukkan enam tema utama, yaitu edukasi gizi, pemantauan status gizi anak, pendekatan berbasis keluarga, kolaborasi dengan puskesmas dan lembaga lain, inovasi kader dan tingkat partisipasi masyarakat. Meskipun kader telah berperan aktif, kendala seperti kurangnya pelatihan, terbatasnya fasilitas, dan rendahnya kehadiran ibu balita menjadi hambatan dalam optimalisasi program pencegahan stunting. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penguatan kapasitas kader Posyandu serta dukungan lintas sektor sangat penting untuk meningkatkan efektivitas pencegahan stunting di Dusun Srunggo 2. Upaya berkelanjutan berupa pelatihan, penyediaan fasilitas, dan peningkatan partisipasi masyarakat diperlukan untuk memperkuat peran Posyandu sebagai garda terdepan pencegahan stunting di tingkat desa.</p> Sarni Anggoro Eni Purwaningsih Siti Hanifatun Fajria Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Riset Daerah 2026-01-21 2026-01-21 25 4 10.64730/jrdbantul.v25i4.155 Studi Fenomenologi Penerapan Metode Pembelajaran Self Directed Learning Plus (SDL+) Pada Mahasiswa AKPER YKY Yogyakarta https://ojs.bantulkab.go.id/index.php/jrd/article/view/156 <p>Pendidikan kedokteran dan kesehatan keterampilan klinik diberikan dalam bentuk skills lab, yaitu suatu program simulasi dimana mahasiswa pendidikan dokter diberikan materi dan berbagai cara serta tindakan terhadap berbagai kasus medis. <em>Self Directed Learning Plus (SDL +)</em> merupakan salah satu metode pembelajaran yang berpusat ke mahasiswa untuk meningkatkan pengetahuan dan skill mahasiswa. Di era global mahasiswa keperawatan dituntut untuk menguasai ilmu pengetahuan, attitude, juga keterampilan klinik di berbagai bidang. Penelitian ini adalah untuk mendapatkan pengalaman mahasiswa pada penerapan metode <em>Self Directed Learning Plus (SDL +).</em> Metode dalam Rancangan penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi yaitu mendeskripsikan, menginterpretasikan dan menganalisis secara mendalam. Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode <em>Colaizzi</em>. Berdasarkan hasil wawancara yang didapatkan menunjukkan bahwa penerapan metode SDL+ pada mahaisswa semester IV STIKES YKY Yogyakarta kurang efektif, mahasiswa merasa kesulitan, dan mahasiswa kurang dapat memahami materi yang disampaikan, ini dikarena mahasiswa terbiasa dengan metode pembelajaran secara konvensional sehingga pada saat diterapkan metode pembelajaran yang baru, mahasiswa cenderung kesulitan untuk menyesuaikan sedangkan modal utama untuk menerapkan metode SDL adalah kemandirian dan inisiatif mahasiswa. Pengalaman mahasiswa dalam ranah peningkatan kemampuan kognitif mahasiswa terhadap penerapan metode pembelajaran SDL+ adalah terdapat peningkatan kemampuan kognitif yang tidak signifikan dalam memahami materi perkuliahan yang disampaikan serta mahasiswa mengalami kesulitan ketika mengikuti perkuliahan dengan metode SDL-.</p> Tenang Aristina Dian Novita Kumalasari Dwi Juwartini Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Riset Daerah 2026-01-21 2026-01-21 25 4 10.64730/jrdbantul.v25i4.156