Jurnal Riset Daerah https://ojs.bantulkab.go.id/index.php/jrd Jurnal Riset Daerah Kabupaten Bantul id-ID bappeda@bantulkab.go.id (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Bantul) dalitbang@bantulkab.go.id (Bidang Riset, Inovasi Daerah dan Pengendalian Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA ) Kabupaten Bantul) Wed, 16 Sep 2026 03:33:09 +0000 OJS 3.3.0.8 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 Analisis Kelayakan Indikatif Pengembangan Mal Berbasis Ekonomi Lokal di Kabupaten Bantul https://ojs.bantulkab.go.id/index.php/jrd/article/view/167 <p>Perluasan aktivitas ekonomi metropolitan di Daerah Istimewa Yogyakarta meningkatkan relevansi penyediaan fasilitas ritel modern di kawasan periurban. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kelayakan indikatif pengembangan mal di Kabupaten Bantul melalui pembacaan potensi permintaan, koridor lokasi, pagar regulasi, serta desain ekonomi lokal yang inklusif. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif eksploratif berbasis data sekunder dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu), telaah dokumen, dan <em>scorecard</em> kebijakan. Data bersumber dari statistik ekonomi daerah, indikator kependudukan dan pengeluaran, data fiskal, regulasi daerah, serta literatur empiris mengenai lokasi mal, perilaku konsumen, <em>catchment area</em>, <em>tenant mix</em>, dan dampak perkotaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bantul memiliki basis pasar yang kuat, ditandai oleh pertumbuhan PDRB riil dari Rp18.839,3 miliar pada 2020 menjadi Rp24.094,68 miliar pada 2025, jumlah penduduk sekitar satu juta jiwa, serta proporsi belanja nonmakanan sebesar 56,44 persen. Bantul bagian utara, terutama koridor Banguntapan–Ring Road Selatan–Wonosari/Imogiri Timur, muncul sebagai lokasi makro paling kuat karena memadukan basis penduduk yang besar, arus komuter, dan kedekatan dengan Kota Yogyakarta. Namun, kelayakan tersebut tetap bersyarat pada kesesuaian tata ruang, status lahan, Andalalin, persetujuan lingkungan, kelayakan finansial, serta perlindungan pasar rakyat dan UMKM. Penelitian menyimpulkan bahwa Bantul layak secara indikatif untuk masuk ke tahap studi teknis-finansial lanjutan, bukan pembangunan langsung, dengan model community-lifestyle mall sebagai arah kebijakan yang disarankan.</p> Muhammad Farkhan Fadhlurokhman, Ryan Fathurrahman, Hendy Fauzi, Arifa Farhani, Adinda Salshabilla Zhauzha Huda, Dewa Anggara, Latifatul Isyarah, Sisilia Dorcelina Sapranim Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Riset Daerah https://ojs.bantulkab.go.id/index.php/jrd/article/view/167 Tue, 01 Sep 2026 00:00:00 +0000 Analisis Peluang Pengembangan Connecting Tourism di Goa Selarong dan Kasongan Kabupaten Bantul https://ojs.bantulkab.go.id/index.php/jrd/article/view/168 <p>Ketimpangan perkembangan antarwilayah destinasi wisata menjadi tantangan utama pembangunan ekonomi berkelanjutan di Kabupaten Bantul. Penelitian ini bertujuan menganalisis peluang pengembangan dan merumuskan strategi <em>connecting tourism</em> antara Desa Wisata Kasongan dan Goa Selarong. Pendekatan deskriptif-kualitatif dengan analisis data sekunder periode 2021–2025 diterapkan pada Kapanewon Kasihan dan Pajangan. Metode analisis memadukan <em>Spatial Gravity Model</em>, <em>Location Quotient</em> (LQ), dan matriks SWOT. Hasil penelitian menunjukkan potensi interaksi spasial yang tinggi sebesar 187 juta satuan interaksi akibat kedekatan geografis (5–7 km), tetapi keterhubungan fungsional antardestinasi belum terbentuk. Analisis <em>LQ</em> menegaskan polarisasi ekonomi, di mana Kasihan berperan sebagai sektor basis (<em>core</em>) dengan <em>LQ</em> 1,30 dan 88 unit akomodasi, sedangkan Pajangan tergolong nonbasis (<em>periphery</em>) dengan <em>LQ</em> 0,09 dan 3 unit akomodasi. Disparitas daya dukung tersebut memicu kebocoran ekonomi serta penurunan kunjungan Goa Selarong sebesar 27,7%. Penelitian menyimpulkan bahwa pengembangan <em>connecting tourism</em> melalui paket wisata tematik, penguatan tata kelola kolaboratif, dan integrasi digital efektif mendorong pemerataan ekonomi wilayah.</p> Ilyas Cahaya Mardiyanto, Muhammad Rahmi Mu'tashim, Noraulifiyah Mazda Surury, Octi Larasati Wachidyannisa, Rias Listiawati, Ratna Wulandari Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Riset Daerah https://ojs.bantulkab.go.id/index.php/jrd/article/view/168 Tue, 01 Sep 2026 00:00:00 +0000 Evaluasi Inovasi GAMPIL (Gerakan Melayani Perizinan Langsung) di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Bantul https://ojs.bantulkab.go.id/index.php/jrd/article/view/169 <p>Digitalisasi pelayanan perizinan memiliki peranan penting bagi pemerintah daerah untuk memperluas formalisasi usaha dan memperkuat kapasitas penerimaan daerah. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi inovasi Gerakan Melayani Perizinan Langsung (GAMPIL) dalam mendukung formalisasi usaha dan optimalisasi pendapatan daerah di Kabupaten Bantul. Penelitian menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan metode analisis kebijakan. Objek kajian meliputi implementasi layanan perizinan, karakteristik pelaku usaha, struktur usaha, dan kontribusi retribusi perizinan terhadap penerimaan daerah. Data yang digunakan merupakan data sekunder yag diperoleh dari dokumen resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bantul, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Bantul, dokumen Anggaran Pendapatan dan belanja Daerah (APBD), Satu Data Bantul, <em>Dashboard Online Single Submission-Risk Based Approach </em>(OSS-RBA), serta regulasi nasional yang berkaitan dengan pelayanan perizinan dan hubungan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah. Data dianalisis melalui telaah dokumen <em>(document anaylsis</em>) dan interpretasi data sekunder. Analisis tersebut diperkaya dengan observasi lapangan terbatas, yaitu pengamatan langsung yang dilakukan selama satu hari dalam kegiatan Pembelajaran Lapangan dan Pengabdian kepada Masyarakat (PLPKM) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bantul. Observasi lapangan digunakan untuk memperoleh gambaran konstektual menganai pelaksanaan pelayanan perizinan dan bukan sumber data utama dalam penelitian. Temuan dari kajian ini menunjukkan bahwa GAMPIL berkontribusi dalam memperluas akses perizinan dan mendorong peningkatan pelaku usaha formal, dari 2.774 unit pada 2021 menjadi 24.594 unit pada 2023. Namun, peningkatan jumlah usaha yang memiliki izin belum diikuti dengan penerimaan daerah yang proporsional. Struktur usaha mikro masih mendominasi di Kabupaten Bantul dengan jumlah 79.898 unit atau 97 persen dari total usaha yang tercatat, sehingga kapasitas kontribusi fiskal masih terbatas. Retribusi perizinan masih berada pada kisaran Rp 1,9 miliar hingga Rp 2,3 miliar per tahun. Temuan ini menunjukkan bahwa digitalisasi perizinan perlu diikuti integrasi data, pembinaan pasca-izin, dan monitoring kepatuhan agar legalitas usaha menjadi instrumen penguatan ekonomi daerah. Dengan demikian, GAMPIL perlu dikembangkan sebagai tata kelola ekonomi daerah yang lebih terintegrasi dan berbasis data.</p> Shaula Rizky Sarlita, Hafifuddin, Fikran Hadi Azryan, Firdausa Kumala Sari, Joevana Putri, Ilfa Fauzia Asra, Wina Nurfaidah Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Riset Daerah https://ojs.bantulkab.go.id/index.php/jrd/article/view/169 Tue, 01 Sep 2026 00:00:00 +0000 Komodifikasi Wayang Kulit Cina Jawa Sebagai Souvenir: Studi Kasus Ghriya Ukir Kulit Sagio https://ojs.bantulkab.go.id/index.php/jrd/article/view/170 <p>Pariwisata budaya mendorong transformasi warisan budaya menjadi produk ekonomi kreatif tanpa menghilangkan identitas budayanya. Penelitian ini bertujuan menganalisis proses komodifikasi Wayang Kulit Cina Jawa (Wacinwa) sebagai produk souvenir di Ghriya Ukir Kulit Sagio, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus tunggal. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi, dan dokumentasi, kemudian diuji menggunakan triangulasi teknik serta dianalisis dengan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komodifikasi Wacinwa berlangsung melalui transformasi visual, transformasi fungsi, reproduksi budaya, serta negosiasi antara tradisi dan pasar. Transformasi visual dilakukan dengan memperkecil ukuran wayang dari sekitar 40 cm menjadi sekitar 17 cm tanpa mengubah penggunaan kulit perkamen, tangkai berbahan tanduk, maupun teknik tatah sungging tradisional. Fungsi Wacinwa bergeser dari media pertunjukan dan artefak museum menjadi souvenir, koleksi, dan elemen dekoratif, sementara reproduksi budaya dilakukan dengan menjadikan koleksi Museum Negeri Sonobudoyo sebagai acuan visual. Temuan ini menunjukkan bahwa komodifikasi tidak menyebabkan degradasi nilai budaya, tetapi menjadi strategi pelestarian melalui adaptasi selektif yang tetap mempertahankan autentisitas dalam mendukung pariwisata budaya dan ekonomi kreatif.</p> Abimanyu Putra Pratama1 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Riset Daerah https://ojs.bantulkab.go.id/index.php/jrd/article/view/170 Tue, 01 Sep 2026 00:00:00 +0000 Strategi Mix Level melalui Peer Assistant di Kelas Bahasa Inggris SMP Islam Terpadu LHI https://ojs.bantulkab.go.id/index.php/jrd/article/view/171 <p>Adanya perbedaan kemampuan belajar yang signifikan di antara siswa, ditambah dengan karakteristik emosional remaja yang kompleks, menjadi tantangan tersendiri bagi guru dalam memfasilitasi pembelajaran. Idealnya, ketika belajar di sekolah guru bisa mengakomodasi permasalahan tersebut dengan pembelajaran yang berdiferensiasi. Namun, pada praktiknya guru masih belum bisa melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi sesuai kebutuhan siswa dikarenakan berbagai macam kendala diantaranya kendala waktu, metode, dan kesiapan guru itu sendiri. Oleh karena itu diperlukan adanya strategi yang bisa membantu menjembatani besarnya gap kemampuan antar siswa agar setiap individu bisa berkembang lebih optimal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi bagaimana sekolah meningkatkan pembelajaran melalui keterampilan sosial, salah satunya melalui strategi <em>mix level</em> dengan pendampingan teman sebaya (<em>peer assistant</em>). Penelitian ini merupakan studi kasus yang dilakukan di SMP Islam Terpadu LHI, dengan pengumpulan data melalui wawancara dan observasi. Wawancara dilakukan kepada guru, asisten guru (<em>Peer Assistant</em>), siswa <em>full-day</em>, siswa asrama, dan duta bahasa. Analisis data dilakukan menggunakan model analisis data lapangan Miles dan Huberman. Validitas data dipastikan melalui triangulasi teknik dan sumber. Berdasarkan hasil penelitian, strategi <em>mix level</em> melalui <em>peer assistant</em> menunjukkan implikasi positif dalam peningkatan potensi akademik maupun non akademik. Disamping itu, strategi ini sebagai sarana intervensi sosial untuk mengurangi kultur individualis remaja, meningkatkan <em>self esteem</em> dan percaya diri juga untuk menciptakan ruang belajar yang nyaman secara sosial.</p> Fourzia Yunisa Dewi Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Riset Daerah https://ojs.bantulkab.go.id/index.php/jrd/article/view/171 Tue, 01 Sep 2026 00:00:00 +0000